Pages

Tampilkan postingan dengan label corat-coret. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label corat-coret. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 April 2012

Suatu Senja Bersama Kakek*



Senja itu aku bertemu kakek. Rambutnya yang putih. Juga tongkat kayu yang terlampau setia mengiringi  langkahnya. Masih sama. Sedikit yang berubah. Tatapan matanya yang tajam, kini terlihat sayu. Sendu.
          Ingin sekali aku merengkuhnya erat. Hal yang sejak lama sangat kuinginkan. Kurindukan.
          Niatku urung. Kulihat kakek menghela nafas berat. Sesak. Kemudian ia membuka mulut keriputnya dan berucap, “Aku begitu mengkhawatirkanmu, Nak.”
          Setelah sekian lama tak bersua, itulah kalimat pertamanya untukku. Kukira kakek akan meluapkan kata-kata kerinduan. Kerinduannya kepadaku, sebagaimana aku begitu merindukanya selama ini.
          Mafhumkah ia bahwa aku sungguh menantikan kebijaksanaannya? Mengertikah ia bahwa aku sangat ingin melihat semangat baja yang termanifestasi di usia senjanya? Terkebih lagi, sadarkah ia bahwa aku betul-betul tak sabar menantikan kepiawaiannya merangkai cerita sarat makna, yang dahulu pernah menghiasi masa kanak-kanakku?
          Tapi, nyatanya kakek malah mengkhawatirkanku.
          “Aku begitu mengkhawatirkanmu, Nak.” Kalimat itu terucap lagi. Aku bingung. Tak mengerti.
          “Bagaimana aku tidak mengkhawatirkanmu, jika kau hidup di tengah-tengah kegilaan ini?!” tandasnya, seakan membaca kebingungan di kepalaku.
          “Ini semua gila. Bagaimana tidak? Saudara-saudaramu tidak segan-segan menggerogoti daging sesamanya. Memamah, menelan, dan celakanya mereka sangat menikmati itu semua,” lanjut kakek. Aku melihat nafasnya yang menyesak.
          “Sungguh ini tidak waras!” Suara kakek tiba-tiba meninggi. “Lihatlah para pemimpin tanah leluhurmu ini! Ternyata mereka tidak lebih dari babi-babi gendut yang sibuk menghisapi sari pati gemah ripah loh jinawi negeri ini. Mereka menimbunnya dengan begitu rapi dalam brankas rakasasa tak kasat mata. Lalu mereka menguncinya dengan sebuah gembok yang hanya bisa dibuka dengan sebuah kombinasi angka yang rumit. Angka-angka yang kemudian menjadi sebuah rahasia. Mungkin rahasia negara.”
          “Lebih mngenaskan lagi, ternyata para pemimpinmu itu terus-terusan khawatir. Bukan kekhawatiran atas rakyatnya. Sama sekali bukan. Mereka khawair harta mereka yang beronggok-onggok itu belum cukup untuk menyumpal mulut anak-cucu mereka kelak. Anak-cucu sampai tujuh turunan, mungkin lebih. Itulah wajah para pemimpin negerimu. Bagaimana aku bisa bertahan untuk tidak muntah bila melihat wajah ‘polos’ mereka? Menjijikkan sekali, bukan?” Mata sendu kakek berubah menjadi tatapan jijik. Aku diam, tidak berani mengomentari.
          “Tidakkah ulu hatimu tertusuk begitu dalam saat menyaksikan carut-marut negeri ini, Nak? Ketika pamong tanah kelahiranmu mengeruk segala kepunyaan rakyatnya, di saat yang sama anak bangsa ini saling mencibir, menghujat, dan menikam. Mereka menuding perbedaan sebagai akar dari segala masalah ini. Dengan pongahnya, mereka membenarkan golongannya dan tidak lupa menyalahkan golongan lain.” Aku melihat kepedihan dalam mata kakek.
          “Kalian bersaudara, seharusnya. Tapi kalian menafikan bahwa bangsa ini terlahir dengan berbagai suku, ras, keyakinan, dan khazanah kebudayaan. Kalian menutup mata bahwa Tuhan menciptakan perbedaan sebagai suatu rahmat untuk semua umat manusia, tanpa terkecuali.”
          “Aku begitu mengkhawatirkanmu, Nak.” Kakek mengucapkan kalimat itu lagi. “Berhati-hatilah. Aku tahu ini tidak mudah.”
          Sedetik kemudian aku tersentak. Aku terbangun dari lelapnya tidurku di suatu senja. Itu tadi mimpi. Ya, aku tahu itu. Bahkan aku sudah menyadarinya sejak kakek mengucap kalimat pertamanya tadi. Karena kakek sudah lama meninggalkanku.
          “Ah, hanya sebuah bunga tidur,” aku bergumam. Tetapi kemudian aku menyadari bahwa semua yang diucapkan kakek tadi bukan sekedar bunga tidur bagi negeri ini.(#)

#untuk Kakek yang tak pernah saya mengenalnya dan untuk Kakek yang telah mengajarkan banyak hal.
*dimuat di buletin MAHKAMAH fh ugm,


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Minggu, 18 Maret 2012

shocking gempa yang membuat kami panik kemudian tertawa

pagi ini seperti senin pagi biasanya. saya tidak bisa berlama-lama meringkuk di balik selimut selepas shubuh, karena  jam sembilan pagi ada kuliah hukum pajak
kuliah hukum pajak untuk kali keduanya (alias coba lagi).
mengulang mata kuliah bukanlah hal yg menyenangkan. sekelas dengan para adik tingkat. masuk dalam list angkatan tua. nomor presensi ada di bagian awal-awal (yg berimplikasi pada seringnya ditanya oleh dosen -___-). dan itu semua bukan hal yang membuat saya sujud syukur bahagia.

tapi saya toh tetap ngampus tadi pagi.
sampai di kelas, sang dosen baru datang 15 menit dari jadwal seharusnya.
kuliah pun dimulai, dan saya mulai mengantuk.
beberapa kali melirik jam dinding yang sepertinya baterenya mulai  habis. lambat benar waktu berjalan!
lima menit berlalu, dan saya masih mengantuk.
saya membolak-balik slide tahun kemaren saya, tanpa benar2 membacanya. berharap ini bisa mengusir rasa kantuk.

dan tiba-tiba kursi saya bergetar! lantai yang saya injak juga bergetar!

sial, ini gempa! dan saya sedang berada di ruang kuliah, di lantai tiga gedung IV FH UGM.

oke, tenang. ini bukan kali pertama saya mengalami sensasi gempa di kelas.
tapi tiba2 saya merasakan aura kepanikan di kelas. saya melihat ke depan. mendapati sang dosen spontan berlari tunggang langgang. tanpa memperdulikan apa2. meninggalkan kunci mobilnya, daftar presensi, juga meninggalkan kami para mahasiswa yg tercengangmelihat beliau.
ya, kami tercengang sekaligus panik.
beberapa detik kemudian, getaran gempa mulai mereda. dan kami sekelas mulai tertawa tak tertahankan.
mengingat kepanikan dosen kami tadi.
kami tertawa, dan beliau tak kunjung kembali ke kelas. beliau lari, pergi entah kemana.
saya berjalan ke luar jelas. melihat keadaan. saya tengok kelas2 lainnya tampak tenang2 saja.
hanya kelas kami yg 'kacau balau'. kelas lain masih tetap melanjutkan aktivitas belajar mengajar.

oke, kelas kami yg terlampau dramatis.

saya berharap  kuliah di kelas kami dibubarkan. :)
tapi ternyata beberapa menit kemudian sang dosen kembali masuk kelas lagi, dengan wajah berkeringat.
kami menahan tawa mati-matian.

dan kuliah pun dilanjutkan kembali. dan saya kembali mengantuk lagi dan beberapa kali melirik jam dinding yg jarumnya kembali melambat.

*********************************

kejadian gempa 'ringan' saat sedang berlangsung kuliah di kelas memang lumayan sering saya alami. Segala puji bagi Tuhan, dari sekian gempa itu tidak ada yang sampai menimbulkan kerusakan fisik atau korban luka.

mengingat gempa di kelas pajak tadi pagi, saya jadi teringat dengan peristiwa yg sama, sekitar  3 tahun yg lalu. saat semester pertama saya.
sore itu, tak lama setelah kuliah Pengantar Hukum Indonesia (PHI) dimualai, tiba2 kursi kami bergetar. layar LCD di depan kelas pun bergoyang-goyang. dan ibu dosen kami langsung berteriak, "gempa! gempa...!"
kami panik. ya kami mahasiswa baru dan ini kali pertama kami merasakan sensasi gempa di dalam kelas.
saat itu kami langsung menghambur keluar kelas. di koridor kelas kami mendapati mahasiswa2 dari kelas lain yg  juga sedang mengalami sensasi panic at the disco. hahahah.

**************

Mengais-ngais ilmu di bumi jogja memang seru. selain khazanah kebudayaannya yg eksotis dan lingkungan yg ramah, sensasi gempa juga turut memacu adrenalin saya.

oke, tidak ada yg tahu hari esok akan seperti apa. kami teguhkan niat menuntut ilmu di tanah rantau ini, dan Tuhan yg akan melindungi kami. :)





Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Sabtu, 17 Maret 2012

binatang yang kehilangan 'kebinatangannya'

well sebenarnya saya ingin membuat postingan di malam minggu, tapi ternyata ini sudah minggu dini hari rupanya. :) oke, anggap saja ini masih sabtu malam minggu. :p

seharusnya malam ini menjadi malam yang penuh semangat mengingat besok tidak ada aktifitas yang disebut kuliah. :D
tapi yang terjadi malah saya mengalami semacam trance, kondisi antara sadar dan tidak. malas ngapa-ngapain, malas keluar, dan bahkan malas untuk tidur pula. karena itu lah saya menolak ajakan teman-teman untuk pergi ke Cak Nun (Ma'iyahan tiap tgl 17) dan tidak tertarik pula dengan ajakan karaokean. malam ini saya ingin sibuk tidak ngapa-ngapain alias do nothing. hhh... tidak produktif bgt ya, hahaha.

mungkin ini efek samping akibat aktifitas seharian yang melelahkan.

pergi ke kebun binatang. (*_*) tepatnya ke kebun binatang gembira loka jogja.

percaya atau tidak, tiga tahun lebih tinggal di jogja, baru kali ini saya bertandang ke markas para satwa itu. itu pun di luar rencana, mendadak. ckckkck.

ceritanya, siang tadi saya memutuskan pergi ke sekretariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII Komsat Gadjah Mada), karena di kontrakan sepi, garing. tidak ada makhluk selain saya (eh, mungkin ada makhluk lain? #celingak-celinguk).

sampai di sekre pmii, ternyata keadaannya tidak jauh beda. memang ada tanda-tanda kehidupan, tapi saya hanya mendapati kang shilah dan tyan. saya pun menonton tivi sambil menikmati makan siang yang merangkap sarapan, ketika datang teman saya, Happy. Mahasiswi jurusan Hama dan Penyakit Tanaman itu mengajak saya ikut pergi ke kebun binatang gembira loka. PMII Rayon Agro Gadjah Mada sedang mengadakan acara jalan-jalan, tujuannya Kebun Binatang Gembira Loka.
saya berpikir sejenak. dan yang ada di kepala saya adalah gajah, harimau, orang utan (standart banget :p).
oke, ini ajakan yg lumayan menarik. mengingat fakta bahwa sampai detik itu saya sama sekali belum pernah berkunjung ke kebun binatang.
hei, bukannya setiap jaman TK selalu ada rekreasi, dan salah satunya ke kebun binatang?
oke, tapi saya tidak pernah mengenyam bangku TK.


jadi saya pun menerima ajakan itu. saya mengajak si tyan dan happy mengajak si niswah.
kami pun berangkat ke TKP dengan motor. para anggota rayon agro lainnya rupanya sudah tiba di TKP lebih dulu.


gustiari, niswah, abid, ida, luluk, popon, tyan, deta, roman, hassan, dan happy (yg motret)
yeah, akhirnya sampai juga saya di kebun binatang.
oke, mungkin ini tampak udik, ini adalah kali pertama saya menginjakkan kaki di kebun binatang dan usia saya sudah kepala dua.
eh, kemana saja saya selama ini? hahah.

di area parkir saya mendapati bus-bus rombongan siswa-siswi TK. Siswa-siswi TK yang bisa jadi baru pertama kali ke tempat ini [seperti saya :'( ]

okeeeeeeeeeeee,,,
kami pun berkeliling. selama berjam-jam.
mendapati berbagai spesies fauna. mulai dari mamalia, aves, amphibi, reptil, dan ikan.

selain fakta bahwa itu adalah kali pertama saya melihat hewan2 secara live (selama ini saya hanya melihat ayam, kucing, dan kambing. ahhaha), saya mendapati satu hal. hewan-hewan dalam kebun binatang itu hmmm,,, tampak aneh menurut saya

ya, aneh. menurut saya binatang-binatang itu telah kehilangan 'kebinatangan' mereka. mereka seperti telah dicuci otak untuk bersikap dan berperilaku layaknya benda tontonan. dan itu membuat saya melihat tak lebih dari lukisan-lukisan yang bergerak. itu saja. tidak ada taste 'kebinatangan' mereka.


[kalo gak salah nih ikan namanya red water melon?
outlooknya memang fresh kayak water melon :D
nyari di selokan mataram ada gak ya? :p]
[siluman harimau putih sdg galau gara2 jomblo]

           















kemudian saya merenung, hal semacam ini juga bisa dialami oleh manusia. jika binatang-binatang itu telah kehilangan 'kebinatangan' mereka, pun demikian dengan manusia. ya, manusia pun tanpa sadar bisa berhenti menjadi manusia.
seperti binatang-binatang yang ada di gembira loka itu, yang telah berhenti menjadi binatang, menurut saya.

kemudian saya bertanya pada diri saya sendiri,
apakah saya tetap menjadi manusia. manusia yang memanusiakan diri sendiri dan memanusiakan manusia lainnya?
atu jangan-jangan saya adalah manusia yang telah berhenti menjadi manusia?
                                                                                                         

naga sedang memangsa abid sang ketua pmii rayon agro
burung maleo. telurnya bisa memenuhi dua telapak
tangan orang dewasa (ngebayangin gimana kalo dijadiin nasi telor :p)

oke,,, terlepas dari kebingungan-kebingungan saya seputar kebinatangan dan kemanusiaan, agenda jalan-jalan ke Kebun Binatang Gembira Loka tadi itu cukup berhasil me-refresh otak saya.
senang rasanya berkumpul dengan teman2 dari rayon agro (walau saya bukan dari agro alias intruder dan cuma saya yg angkatan 2009 #merasa sepuh -______-).
terima kasih untuk sahabat/i agro semuanya.
hari yg menyenangkan, walau harus diakhiri dengan bergelantungan di dalam TransJogja yg penuh sesak selama hampir satu jam. :p

sukses untuk pmii rayon agro gadjah mada!
semangat sahabat/i agro! :D

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Senin, 05 Maret 2012

Kertas-Kertas Usang dan Cerita yang Tak Pernah Usang



https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjVVjkQMhg5WFFipaum6n8FW8BvT9sxlK3juIT6Rl2cBJ58paxtvSECdDSUHRqA3WONwpmlqCv-7ysR664FIdH8-3GTtB2yLp85mBggAsR-5_lDo5ajkNJJFY_uJ36CSTFRtd4d97jekcbP/s1600/kertas+usang.jpgEntah apa yang menyeret kaki saya mendatangi sebuah almari tua di salah satu sudut rumah saya hari itu. Saya menatap almari yang sudah ada sejak masa kanak-kanak saya itu. Kemudian tangan ini begitu saja menyusuri rak-rak almari yang berdebu itu. Tangan saya berhenti pada tiga bungkusan plastik bening gemuk berisi kertas-kertas entah apa. Saya ambil tiga bungkusan plastik itu. Pada salah satu plastik, mata saya menangkap sederet kalimat. Dokumen penting Hanif Junaedi Ady Putra 2003-2009.
            Saya tercenung sejenak. Saya hampir tidak ingat bahwa saya pernah menulis kalimat itu. Dan, hei, 2003-2009? Bukankah di tahun-tahun itu saya adalah siswa yang memakai seragam putih-biru dan putih abu-abu? Saya merasakan jantung saya berdegup senang. Saya segera membuka tiga bungkusan plastik itu.
            Berlembar-lembar kertas saya keluarkan dari bungkusan plastik itu.
            Ah, ternyata saya menyimpan begitu banyak kertas.
            Buletin Ad-Da’wah. Oh, saya ingat bahwa saya memang mengkoleksi buletin sekolah saya ini. Saya masih ingat betul tagline buletin ini, merajut cinta, menebar kasih sayang. Saya membolak-balik halaman beberapa edisi, membaca sekilas. Ibnu Turost, saya mendapati nama itu ada di setiap edisi pada rubrik Kedai Sufi. Memori saya membawa pada sosok ustadz muda yang telah mengajarkan banyak hal kepada kami. Sang guru yang pergi terlalu cepat. Semoga kau tenang di sana, Gus Aang...
            Saya merapikan lembar-lembar buletin itu, kemudian meraih kertas-kertas yang lain.
            Beberapa kertas berukuran 5 x 3 senti berwarna hijau dan merah pucat ada di tangan saya. Hmm, bagaimana bisa saya menyimpan kertas ini? Ini tasrikh, sebutan untuk sebuah surat jika kau hendak tidak masuk kelas karena sakit atau ada keperluan lain. Ya, itu surat-surat izin tidak mengikuti kelas. Saya masih ingat, betapa terkadang cukup sulit untuk mendapatkan tanda tangan tutor untuk selembar tasyrikh.
            Saya meletakkan tasyrikh-tasyrikh itu dan beralih pada kertas-kertas lainnya.
            Kertas-kertas ulangan. Saya tersenyum simpul. Hei, sudah berapa lama saya tidak mendengar kata itu, ulangan. Sudah lama saya tidak merasakan sensasi belajar kebut semalam ketika esok hari ada ulangan.
            Saya membaca lembar demi lembar kertas ulangan itu.
            Ulangan Matematika. Hei, ternyata saya masih menyimpan dengan baik kertas ulangan matematika saya. Padahal saya masih ingat betul bahwa matematika telah menjadi semacam dementor  bagi saya waktu itu. Tapi untungnya waktu itu para guru matematika bukan tipe-tipe pelahap maut. Bukan benar-benar pelahap maut. Saya teringat Pak Toton yang selalu berapi-api dengan gaya khasnya, Pak  Guru Muda (ah, saya lupa siapa namanya. Tapi saya masih ingat, pernah mendapat hadiah sepotong coklat setelah berhasil menjawab sebuah kuis. Dan saya juga masih ingat, waktu itu saya hanya asal menjawab saja. hahah.), dan Pak Fanani yang begitu gigih menyertai kami hingga kami melewati Ujian Nasional.
            Kemudian Ulangan Akuntansi. Hmm, akuntansi. Mata pelajaran yang masih mengharuskan saya berhadapan dengan angka-angka. Padahal alasan mengapa saya lebih memilih jurusan IPS ketimbang IPA adalah untuk menghindari angka-angka membosankan pada mata pelajaran fisika & kimia. J Alasan yang tidak dewasa. Hahha. Akuntansi, transaksi keuangan, debet, kredit, kas, utang, piutang, modal, laba, laporan keuangan, dan lain-lainnya, apa kabar kalian?
            Dan kertas Pre Examination, Mastering of System (MS) 29. Test yang diadakan oleh para tutor bahasa inggris dari Basic English Course (BEC), Kediri. Ya, saya masih ingat setiap beberapa bulan tutor-tutor dari BEC itu datang ke sekolah kami.
            Saya mengamati kertas test saya, kemudian meraih kertas yang lain. Dan, hei, saya menemukan kertas test milik Nizar Zulmi. Bagaimana bisa kertas testnya ada pada saya? Oh, saya teringat bahwa dia adalah teman sebangku saya saat di kelas 11 dan 12. Sori Lek Guuush, kertasmu kegowo. Hahhah.
            Ah, kertas-kertas ulangan itu mengingatkan pada semua mata pelajaran yang menemani hari-hari saya selama enam tahun di suatu tempat yang mereka sebut al-amin.
Matematika. Apa kabar rumus-rumus yang tak pernah ringkas bagi saya itu? Apa kabar aljabar, integral, persamaan kuadrat, dan yang lainnya?
Bahasa Indonesia. Apa kabar Pak Sukis? Masihkah kau marah ketika ada siswamu yang tidak menyampuli buku tulisnya? Masihlah kau dengan jurus andalanmu, jurus tapak budha-mu dulu? J
PPKn. Saya ingat saat pelajaran ini seorang Mario Widiyanto sedang diam-diam mengunyah wortel dan kubis mentah di mejanya. hahaha. Saya juga masih  ingat ekspresi Pak Manaf saat memergoki kejadian ajaib itu, yang mungkin baru pertama kalinya ia alami selama karirnya sebagai pengajar.
Sejarah. Teringat drama yang kami mainkan saat kami sampai pada bab yang mengisahkan peristiwa rengas dengklok dan detik-detik menjelang proklamasi kemerdekaan Indonesia.
SKI.  Terbayang ekspresi pak Ista’in yang polos serta cerita perang Badar dan perang Khandaq,
Balghoh. Saya ingat berapa jumlah siswa yang tersisa (tidak tertidur) saat pelajaran ini. ckckck. Saya termasuk di antaranya (yang tertidur, setelah mati-matian menahan kantuk) J. Belakangan saya menyesal, menyadari betapa berharganya kesempatan belajar dengan Kiai Muthoharun Afif. Ditambah lagi ternyata balaghoh adalah materi yang menarik sebenarnya.
Nahwu. Inilah yang paling terkenang. Masih ingat betul betapa njelimet dan menantangnya materi yang kami pelajari. Bab-bab yang banyak dan beranak pinak yang membutuhkan nalar kuat untuk memahami semuanya. Bahkan sampai saat ini, di tahap pendidikan saya sekarang, saya belum mendapati mata kuliah yang bisa menandingi ‘kedahsyatan’ Ilmu Nahwu. Tidak hukum pidana juga tidak HPI yang konon sulit nilainya itu. Saya pun Masih terbayang atmosfer khas saat ujian lisan nahwu. Dan masih lebih ingat lagi bagaimana rasanya atmosfer deg-degan saat pengumuman siapa-siapa yang lulus dan siapa-siapa yang harus remidi alias coba lagi. J
Aqidatul Awam. Ah, ini dia. Betapa ngawurnya kami saat sesi lalaran. Dengan semangatnya kami, memberontak. Alih-alih melantunkan bait—nadzam-nadzam sebagaimana mestinya, kami malah menciptakan lirik baru. Yang intinya adalah: kami bosan melantunkan bait dengan lagu itu melulu dan kami minta ganti lagu. Tak ayal, Pak Masud Bilaa Yunus langsung cabut meninggalkan kelas. Luar biasa. Kami telah membuat seorang guru ngambek, di tahun pertama kami.
Tafsir Jalalain. Raut wajah bersahaja Abah Nurudin masih teringat jelas. Saya merindukan cerita-cerita yang melatarbelakangi setiap ayat dalam al-quran. Bahkan saya merindukan momen-momen ngebut menambal halaman-halaman kitab yang bolong saat menjelang masa Takhasus. Dan saya ingat, ada yang mengisi halaman-halaman kitab mereka dengan lirik lagu dan bahkan cerita fantasi. saya tak pernah bisa menahan tawa bila mengingat yang satu ini.
Geografi. Ah, saya begitu merindukan pelajaran ini. Sangat menyenangkan belajar tentang bumi, sabana stepa, dan lainnya. Menyenangkan dan santai kayak di pantai. J
Sosiologi. Mengingatkan pada sosok Gus Aang lagi. Sosok yang selalu bersemangat mengajarkan segala teori sosial kepada kami. Mengenalkan kami dengan mereka-mereka yang bernama August Comte, Durkheim, Weber, hingga Selo Sumardjan dan  oejono Soekanto.
Faraidh
Bahasa Inggris
Shorof
Qowaidul Fiqih
Ekonomi
Ilmu Tuhid
Dan semuanya...
Mereka meninggalkan kisah tersendiri.
Kapan saya bisa belajar dengan mereka lagi?
Mungkin bodoh, tapi saya berharap malam ini saya tidur nyenyak dan bangun keesokan harinya untuk berangkat ke kelas dan mempelajari mereka lagi. Sekali lagi. Bahkan untuk bab matematika yang paling rumit sekalipun saya mau. Asal suasananya tidak berbeda dengan dulu.
*mulai ngelantur, maaf*

Kemudian tangan saya kembali memunguti kertas-kertas lainnya, yang masih banyak.  Saya membacanya satu persatu, lembar demi lembar.
            Kartu Ujian Semester.
            Kartu Panitia MOS.
            Denah Ruang Ujian Semester Genap.
            Tiket Masuk Gus dan Yuk Mojokerto 2007.
Surat Undangan Organisasi Santri Ma’had Al-Amin (OSMA), mengingat OSMA saya jadi teringat Trio OSMA Legendaris (Farid-Huda-Barock), apa kabar kalian? J
Segepok soal-soal latihan Ujian Nasional. Tidaaak, UAN! Cukup sekali saja. hahaha
Proker Pengurus OSMA.
Surat Kesediaan Menjadi Pengurus OSMA.
Klipingan koran, entah buat apa waktu itu.
Lirik-lirik lagu. Boulevard of Broken Dreams (Green Day), No Body’s Home (Avril Lavigne), The Second You Sleep (Saybia). Lagu-lagu pada sesi listening, program para tutor BEC.  Saya baru sadar bahwa lagu-lagu itu adalah lagu galau. hahaha
Struk pembelian di Indomart Japan Raya. Apa saya sudah tidak waras? Untuk apa menyimpan struk belanja? hahaha
Cerpen-cerpen lama saya. Ah, saya malu ketika membacanya. Bagaimana bisa dulu saya seaneh itu? Ahhahhha.
Naskah otentik Jaipong di Bulan April. Ternyata masih ada, saya kira hilang entah kemana, (hahhaha, gak penting)
Sebuah puisi. Puisi yang saya ikutkan lomba, lomba pertama yang saya ikuti, dan kalah. haha, Hei, saya baru sadar telah menulis sebuah puisi sepanjang tiga halaman folio dan begitu membacanya saya lupa apa maksud puisi itu dulu. wkwkwkw.
Jadwal acara perlombaan six days before holiday.
Sebuah notebook  dengan tulisan pada covernya, Lakmud Gabungan IPNU-IPPNU PAC Pacet-PAC Sooko. Hei, saya lupa pernah menjadi anggota IPNU. Hahaha.
Saya membuka halaman-halaman notebook itu dan mendapati tulisan-tulisan. Di antaranya tulisan saya sendiri, dan sisanya bukan tulisan saya. Tapi saya masih ingat betul tulisan siapa itu. Ada sebuah halaman dipenuhi dengan deretan huruf-huruf gemuk yang saya yakin itu milik Syahrut. Hei, apa kabarmu kawan? Cengkok dangdutmu masih seperti dulu? Kapan kau pulang ke Indonesia? Dan satu tulisan lagi, saya sangat mengenalnya. Itu pasti tulisan Huda. Ukuran dan bentuk hurufnya tidak akan ada yang menyamai. J
Dan kertas-kertas lainnya masih terserak di lantai. Berbagai macam kertas dan sebagian di antaranya telah lusuh dimakan waktu.
Ah, bagaimana bisa saya menimbun kertas-kertas usang ini?
Kertas-kertas tua yang terlihat tidak penting ini, yang sepertinya lebih layak menghuni tempat sampah ketimbang disimpan dalam almari.
Tapi tidak. Kertas-kertas ini memang usang. Tapi saya melihatnya seperti saya menatap seorang teman lama.
Kertas-kertas ini telah berhasil menumpahkan kenangan lama pada kepala saya.
Kertas-kertas tua ini telah membawa saya pada suatu episode kehidupan beberapa tahun lalu.
Mengingatkan saya  pada canda, tawa, amarah, gelisah, dan semua yang pernah tertoreh waktu itu.
Mengingatkan saya pada kalian, sahabat-sahabat terbaik yang pernah saya miliki.
Mengingatkan pada para guru, asatidz yang telah mengajarkan banyak hal kepada kami.
Mengingatkan pada semuanya.
Dan saya akan masih menyimpan kertas-kertas ini, entah sampai kapan.

Mojokerto, 7 Februari 2012
P.S. Maaf untuk teman-teman yang namanya 'terseret' dalam tulisan ini. Maaf jika coretan yang memanjang ini pada akhirnya hanya menambah notifikasi saja. :p
Saya hanya ingin, yeah mungkin bisa disebut dengan mengumpulkan kalian di dunia maya. Bertemu kalian di sini.
Karena ternyata tidak mudah berkumpul-bertemu kalian di alam nyata (wah, pilihan kata yang aneh. haha).
Karena sekarang ini kita telah memiliki, apa yang disebut dengan aktifitas masing-masing.
Karena kita tidak lagi memakai seragam yang sama.
Karena kita tidak lagi belajar dari guru dan di ruang kelas yang sama.
Karena kita tidak lagi tidur berdesak-desakan di lantai yang sama.
Karena kita tidak lagi makan di sebuah nampan yang sama.
Karena kita tidak lagi minum dari gentong air yang sama.
Karena kita tidak lagi  berlari di lapangan yang sama.
Karena kita tidak lagi dimarahi dan dihukum oleh orang yang sama karena ulah kita.
Karena kita tidak lagi berebut kamar mandi yang sama di setiap pagi.

Karena, yeah karena kini kita melanjutkan garis hidup kita masing-masing.
Ini wajar, bahkan ini sangat alami dalam hidup. Tidak selamanya kita menggambar garis yang sejajar satu sama lain kan?
Tapi yang pasti, tali persaudaraan tidak pernah putus. Meski segalanya tidak lagi sama.




Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer